Senin, 21 April 2008

PENGARUH ISLAM TERHADAP KEBANGKITAN BARAT

Oleh : Hamzah Tualeka ZN
(IAIN Sunan Ampel Surabaya)
PENDAHULUAN

Berdasarkan kajian-kajian tentang sejarah peradaban manusia dapatlah dirumuskan bahwa keabadian suatu peradaban tertentu tergantung pada kadar pengaruhnya terhadap berbagai segi pemikiran, moral dan material di kemudian hari.
Jauh sebelum bangkitnya Barat di abad pertengahan, Islam telah memiliki kemajuan dalam berbagai bidang peradaban seperti bidang akidah keagamaan, filsafat dan ilmu pengetahuan, bahasa dan kesusastraan, hukum dan perudang-undangan serta kenegaraan dan hubungan-hubungannya, dan bahkan kebangkitan Barat itu pun tidak lepas dari keberhasilan yang terlebih dahulu dimiliki Islam.
Timbul pertanyaan : Melalui apa Islam mempengaruhi kebangkitan Barat ?. Secara historis terdapat tiga faktor pengaruh peradaban Islam yang mendorong kebangkitan dunia Barat yaitu :
1. Melalui perang Salib.
2. Melalui persentuhan Barat dengan perguruan-perguruan tinggi Islam.
3. Melaui penyalinan manuskrip Arab ke dalam bahasa Latin.
Sehubungan dengan itu, makalah ini akan menyoroti beberapa hal yang secara sistematis tersusun sebagai berikut :
1. Pendahuluan.
2. Akibat Perang Salib.
3. Persentuhan Barat dengan perguruan tinggi Islam.
4. Penyalinan manuskrip Arab ke bahasa Latin.
5. Penutup.
Kelima hal tersebut akan diuraikan secara berurutan pada pembahasan lebih lanjut.

AKIBAT PERANG SALIB
Akibat Perang Salib yang hampir dua abad lamanya itu besar sekali pengaruhnya terhadap dunia Barat dalam bidang budaya dan intelektual. Sebelumnya, sejak abad ke-7 Masehi, pihak Islamlah yang memasuki wilayah-wilayah Kristen sejak dari Asia Kecil sampai ke semenanjung Italia dan semenanjung Iberia (Spanyol/Portugal) dari wilayah Selatan Perancis. Sebelumnya, andaipun ada orang dari wilayah-wilayah Eropa yang mengunjungi wilayah-wilayah kekuasaan Islam, maka hal itu hanya bersifat perorangan belaka. Tapi selama Perang Salib yang hampir dua abad lamanya itu, mereka datang dalam jumlah besar, sampai ratusan ribu setiap angkatan, sejak dari lapisan rakyat umum sampai kaum bangsawan. Di wilayah-wilayah Islam itulah, mereka menyaksikan kastel-kastel bekas kediaman amir-amir Islam dan para sultan di wilayah Suriah maupun Tanah Suci, bekas peninggalan imperium Roma itu, berhiaskan dekorasi yang membangkitkan rasa estetik, sejak hiasan dinding sampai lantai yang berhiaskan permadani-permadani lembut tata warna, jauh berbeda dengan kastel-kastel kaum bangsawan di Eropa dewasa itu.
Siapa yang pernah menyaksikan berbagai film Robin Hood yang terjadi pada masa Prince John berkuasa di Inggris, mewakili saudaranya King Richard the Lion Heart yang tengah memimpin pasukan salib menuju Tanah Suci, ataupun film Ivanhoe yang juga terjadi sekitar masa itu, tentu akan menyaksikan bahwa kastel-kastel kaum bangsawan di Inggris pada masa itu masih telanjang tanpa dekorasi, baik dinding maupun lantainya, dan meja-meja panjang dalam ruangan besar terbikin dari balok dan kursi-kursi dari kayu dalam bentuk kasar. Pada masa itu cara penyajian hidangan dalam pesta-pesta besar di Inggris juga masih amat sederhana. Begitu pula tata cara makan, masih mempergunakan tangan, dengan paha ayam di tangan kiri dan roti dipegang dengan tangan kanan, belum mempergunakan sendok dan garpu. Keadaan serupa itu biasa terlihat pada kastel-kastel bangsawan di Eropa dewasa itu. Tapi sejak Perang Salib, terjadilah perubahan besar. Mereka mulai memesan benda-benda yang terpandang mewah dewasa itu, sehingga makin berkembanglah perdagangan Venezia dan Genoa, yang menyambut barang-barang kebutuhan tingkat tinggi dari saudagar-saudagar muslim di bandar-bandar dagang sekitar Lautan Tengah (Joesoef Sue’yb, 1985 : 34-35).
Di samping menyaksikan perkembangan kebudayaan dunia Islam, mereka pun menyaksikan betapa tinggi perkembangan ilmiah dan filsafat sehingga menitikkan selera kaum cendikiawan yang ikut dalam setiap Angkatan Salib itu. Semua itu semakin membangkitkan minat dan perhatian untuk mengenali dan mempelajari perikeadaan di benua Timur.
Perang Salib memang merupakan salah satu faktor yang mendorong kebangkitan dunia Barat, di samping dua faktor lainnya.

PERSENTUHAN BARAT DENGAN PERGURUAN TINGGI ISLAM

Sejarah mencatat adanya empat perguruan tinggi tertua di lingkungan dunia Islam. Perguruan Tinggi tertua di dunia Islam di belahan Timur, berkedudukan di Baghdad (Irak) dan di Kairo (Mesir), yang kurang mengundang perhatian tokoh-tokoh dari Barat pada masa itu dan masa-masa berikut. Sebaliknya dua perguruan tinggi tertua dunia Islam di belahan Barat, yang berkedudukan di Cordova (Andalusia) dan Fez (Maroko), tarikannya bagaikan magnit yang tidak tertahankan oleh tokoh-tokoh dunia Barat. Keempat perguruan tinggi tertua tinggi di dunia Islam itu adalah : Nizhamiah, Al-Azhar, Cordova dan Kairwan.

Perguruan Tinggi Nizhamiah

Sejak beralihnya kekuasaan eksekutif tertinggi dalam Daulat Abbasiah (750-1258 M) di Baghdad dari keluarga Buwaihi (933-1052 M) kepada keluarga Seljuk (1037-1194 M) pada tahun 428 H (1037 M), yakni dari kekuasaan eksekutif tertinggi itu pun turut berubah. Kalau semula disebut Amier al-Umara’ (Amir dari seluruh Amir), maka kini disebut Pemangku Kuasa (Sultan). Para Khalifah Daulat Abbasiah dewasa itu bukan lagi merupakan pemegang kekuasaan tertinggi, melainkan sekedar lambang kekuasaan Daulat Abbasiah belaka.
Sultan pertama dari keluarga Seljuk itu ialah Sultan Artoghrul (1037- 1063 M) yang kemudian digantikan oleh puteranya, Sultan Alep Arselan (1063- 1072 M). Pada masa Sultan yang kedua itulah jabatan Wazir Besar (Great Vizier) dijabat oleh Amir Nizham Al-Muluk. Sewaktu Sultan Alep Arselan digantikan oleh puteranya, Sultan Malik Shah (1072-1092 M), jabatan Wazir Besar itu masih dipangku oleh Amir Nizham Al-Muluk. Tokoh inilah yang membangun Perguruan Tinggi Nizhamiah di Baghdad pada tahun 455 H/1063 M.
Perguruan Tinggi tersebut dilengkapi dengan perpustakaan yang terpandang kaya raya di Baghdad, yakni Bait al-Hikmat, yang dibangun oleh Khalifah al-Makmun (813-883 M). Salah seorang ulama besar yang pernah mengajar di sana, adalah ahli pikir Islam terbesar, Abu Hamid Al-Ghazali (1058-1111 M), yang kemudian terkenal dengan sebutan Imam Ghazali.
Perguruan Tinggi tertua di Baghdad itu hanya sempat hidup selama hampir dua abad. Menjelang tahun 656 H (1258 M) berlangsunglah penyerbuan bangsa Mongol dari Asia Tengah ke arah barat dibawah pimpinan Hulagu Khan (1256- 1349 M), cucu Jenghiz Khan (1162-1227 M). Pada tahun 1258 M itu pula mereka merebut dan menguasai ibukota Baghdad, dan berakhirlah sejarah Daulat Abbasiah.
Tetapi karena kebudayaan bangsa penakluk itu lebih rendah daripada kebudayaan bangsa yang ditaklukkan, akhirnya bangsa penakluk wilayah yang demikian luas sejak dari pegunungan Thian Shan di sebelah Timur sampai ke Timur Tengah di sebelah barat itu, malah memeluk agama Islam, dan turunan Hulagu Khan pun menjadi sultan-sultan Islam yang perkasa. Jadi seperti halnya dengan penaklukan bangsa Mongol ke Tiongkok di bawah pimpinan Kubilai Khan (1214-1294 M), cucu Jenghiz Khan, di mana mereka lantas memeluk agama Buddha di situ, dan terbentuklah dinasti Yuan (1279-1368 M) di Tiongkok (Joesoef Sue’yb, 1985 : 37-38).
Perguruan Tinggi Al-Azhar

Pada waktu kekuasaan Syiah tumbang di Baghdad, maka kekuasaan Syiah pun bangkit di Tunisia, yakni Daulat Fathimiah (909-1171 M), yang dibangun oleh Amir Ubaid Allah al-Mahdi yang menyebut dirinya Khalifah Ubaid Allah (909-934 M). Pada masa pemerintahan Khalifah Muiz Li Din Allah (952-975 M), Khalif keempat dari Daulat Fathimiah, wilayah Lybia dan Mesir berhasil direbut oleh Panglima Besar Jauhar al-Siqili dari Daulat Abbasiah. Tokoh inilah yang pada tahun 362 H/972 M membangun ibukota yang baru di Mesir, yakni ibukota Al-Qahirah (Kairo), untuk menggantikan ibukota Fusthat, dan kemudian memindahkan ibukota Daulat Fathimiah dari Tunis ke Al-Qahirah. Khalifah Muiz Li Din Allah pindah ke Mesir dan menetap di ibukota yang baru itu. Panglima Besar Jauhar al-Siqili ini pula yang pada tahun 362 H/972 M membangun Perguruan Tinggi Al-Azhar dengan kurikulum berdasarkan ajaran sekte Syiah. Pada masa pemerintahan Khalif al-Hakim Bi Amr Allah (996-1020 M), Khalifah keenam dari Daulat Fathimiah, ia pun membangun perpustakaan terbesar di Al-Qahirah untuk mendampingi Perguruan Tinggi Al-Azhar, yang diberi nama Bait al-Hikmat (Balai Ilmu Pengetahuan), seperti nama perpustakaan terbesar di Baghdad.
Pada tahun 567 H/1171 M Daulat Fathimiah ditumbangkan oleh Sultan Salahuddin al-Ayyubi (1171-1193 M) yang kemudian mendirikan Daulat al-Ayyubiah (1171-1269 M), dan menyatakan tunduk kembali kepada Daulat Abbasiah di Baghdad. Kurikulum pada Perguruan Tinggi Al-Azhar lantas mengalami perombakan total, dari aliran Syiah kepada aliran Sunni. Ternyata Perguruan Tinggi Al-Azhar itu mampu hidup terus sampai kini; yakni sejak abad ke-10 Masehi sampai abad ke-20, dan tampaknya akan tetap lanjut hidupnya.

Perguruan Tinggi Cordova

Semenanjung Iberia yang meliputi wilayah Spanyol dan Portugal sekarang ini dikuasai oleh pihak Islam pada tahun 711 M dari kekuasaan pihak Goth-Barat, yakni Kingdom of Visigoth (419-711 M), dan berada di bawah kekuasaan Daulat Umayyah (661-750 M) yang berkedudukan di ibukota Damaskus. Sedangkan Al-Wali (Vice Roy) Islam berkeududukan di Toledo, bekas ibukota kerajaan Visigoth. Sejak itulah semenanjung Iberia lebih dikenal dengan wilayah Andalusia, karena dulunya didiami oleh bangsa Vandal sebelum direbut dan dikuasai oleh pihak Goth-Barat (Visigoth).
Pada tahun 132 H/750 M Daulat Umayyah ditumbangkan oleh Daulat Abbasiah (750-1258 M). Dalam kemelut itu seorang amir dari keluarga Umayyah, Amir Abdurrahman Al-Dakhil, sempat meloloskan diri dari Damaskus, melanjutkan perjalanannya arah ke barat, menyusuri Afrika Utara menuju Afrika Barat dan memasuki wilayah Andalusia, dimana ia disambut dengan penuh kehormatan. Enam tahun kemudian, 138 H (756 M), diumumkanlah pembentukan Daulat Umayyah (756-1031 M) di dunia Islam belahan barat itu, dan ibukota dipindahkan dari Toledo ke Cordova.
Di tangan Daulat Umayyah, semenanjung Iberia yang sejak berabad-abad sebelumnya terpandang daerah minus, berubah bagaikan disulap menjadi daerah yang makmur dan kaya raya dengan pembangunan bendungan-bendungan irigasi di sana-sini menuruti contoh lembah Nil dan lembah Euphrate. Bahkan pada masa berikutnya, Cordova menjadi pusat ilmu dan kebudayaan yang gemilang sepanjang Zaman Tengah.
Mengenai keadaan pada masa pemerintahan Khalifah Abd al-Rahman III (912-961 M) di Andalusia, William L. Langer menulis sebagai berikut:
“Masa pemerintahan Abd al-Rahman itu ditandai oleh pengamanan arah ke dalam, penyempurnaan organisasi pemerintahan (sentralisasi), kegiatan armada, perkembangan pertanian, dan kemajuan industri. Cordova (berpenduduk lebih kurang 500.000 jiwa) merupakan pusat intelektual terbesar di Eropa, dengan perdagangan kertas yang melimpah ruah, perpustakaan-perpustakaan terbesar, dan perguruan-perguruan yang amat terkenal (ketabiban, matematik, filsafat, kesusastraan, musik) dan penyalinan naskah-naskah Grik dan Latin secara luas” (Joesoef Sue’yb, 1985 : 41, lihat William L. Langer, 1956 : 163-164).
Roger Bacon (1214-1294 M), ahli pikir Inggeris terkenal, menurut Encyclopedia Britannica jilid II halaman 191-197 (Arabic Philosophy), menempatkan Averroes (Ibnu Rushd), dan menganjurkan supaya mempelajari bahasa Arab sebagai jalan satu-satunya untuk memperoleh pengetahuan yang dibikin kabur oleh salinan-salinan yang jelek. (“Roger Bacon, placing him (Averroes) Beside Aristotle and Avicenna, recommends the study of Arabic as the only way of getting the knowledge which bad versions obscured”).
Sentuhan dunia Barat dengan Perguruan Tinggi Islam di Cordova beserta kota-kota lainnya di Andalusia itu memang merupakan faktor yang makin mendorong kebangkitab Barat, yakni kegariahan untuk menyelidiki hal-hal yang berkaitan dengan perikeadaan di Timur.Tetapi sewaktu kesusahan Islam terakhir di Andalusia jatuh ke tangan King Ferdinad II (1452-1516) dan Ratu Isabela I (1451-1504) pada tahun 1492 M, setelah hampir delapan abad Islam berkuasa di semenanjung Iberia, maka sejarah mencatat bahwa Great inquistiion di bawah pimpinan Tomas de Terquearda (1420-1498) di Spanyol, sebuah lembaga gereja yang dibangun oleh Paus Inncent III (1198-1216), membakar dan memusnahkan perpustakaan-perpustakaan yang kaya raya di Andalusia itu ! Sejak itulah Spanyol berhenti menjadi pusat intelektual di Eropa.

Perguruan Tinggi Kairwan

Perguruan Tinggi Kairwan di kota Fez (Afrika Barat) dikenal dalam literatur di Barat dengan ejaan Karaoine. Perguruan tinggi ini bermula dibangun pada tahun 859 M oleh puteri seorang saudagar hartawan di kota Fez, yang berasal dari Kairwan (Tunisia), pada masa Daulat Idrisiah (789-924 M) masih menguasai wilayah Afrika Barat sampai ke senegal dan Guinea. Pada tahun 305 H (918 M), Perguruan Tinggi itu diserahkan kepada pemerintah dan sejak itu menjadi Perguruan resmi, yang perluasan dan perkembangannya berada di bawah pengawasan dan pembiayaan negara.
Landau dari College of Pacific, California, menulis mengenai Perguruan Tinggii itu sebagai berikut :
“Zaman emas bagi Perguruan Tinggi Kairwan itu ialah pada abad ke-12, 13, 14 dan 15, yakni di bawah kekuasaan Daulat al-Muwahhidin (1120-1231 M) dan seterusnya di bawah kekuasaan Daulat al-Marina (1214-1465 M). Mereka itu pelindung ilmu pengetahuan dan pembangunan monumen-monumen arsitektural yang teramat indah di kota (Fez) itu. Pada masa itu, Perguruan Tinggi Kairwan bukan hanya menarik mahasiswa dari Afrika beserta dunia Islam di seberang, tetapi juga bahkan dari Eropa” (Joesoef Sue’yb, 1985 : 44, lihat Landau, 1858)
Selanjutnya ia menulis:
“Di antara mahaguru dan mahasiswanya kita jumpai Ibnu Khaldun, Ibnu Khatib, Al Bitruji, Ibnu Hazmi, Ibnu Bajjah, mungkin juga Ibnu Arabi. Konon pada Perguruan Tinggi Kairwan itulah Gerbert of Auvergne (930-1003 M), yang belakangan menjabat Paus (di Vatikan) dengan panggilan Paus Sylvester II (999-1003 M), mengemukakan angka Arab dan penggunaan angka-nol; dan kedua-duanya itu konon dialah yang memperkenalkannya buat pertama kali ke Eropa (untuk menggantikan angka Rumawi). Ibn Maimun (Maimonides, ahli pikir Yahudi terkenal) juga konon belajar di Perguruan Tinggi Kairwan, di bawah Abd al-Arabi Ibn Muwashab. Pelawat terbesar dan pencatat sejarah Afrika Hasan Ibn al-Wazan, yang dikenal (di Eropa) dengan sebutan Leo Africanus (1494-1552) adalah pula sarjana Perguruan Tinggi Kairwan” (Joesoef Sue’yb, 1985 : 44-45, (lihat Landau, 1858 : 105)
Seperti halnya Perguruan Tinggi Al-Azhar di Kairo, Mesir, Perguruan Tinggi Kairwan di kota Fez, Marokko, itu pun masih tetap hidup sampai kini. Di antara sekian banyak alumninya, adalah pejuang nasionalis muslim terkenal, Allal al-Fasi, dan Mahdi Ben Barka, yang berhasil mencapai kemerdekaan Marokko dari penjajahan Perancis sehabis Perang Dunia Kedua, lalu menjabat PM Maroko di bawah Sultan Muhammad V. Sedangkan ilmuwan termasyhur yang pernah menjadi mahagurunya, antara lain Ibn Thufail (1106-1185 M) dan Ibn Rushd (1126-1198 M), pada masa Daulat Al-Muwahhidin (1120-1231 M). Berkat banyaknya mahasiswa yang berdatangan dari Eropa, maka nama Avenbacer (Abu Bakar Ibn Thufail) dan Averroes (Ibn Rushd) dan Avempas (Ibn Bajah) dan Alhazem (Ibn Hazmi) dan lainnya, amat populer dan harum di Eropa.

PENYALINAN MANUSKRIP ARAB KE DALAM BAHASA LATIN
Faktor lain yang mendorong bangkitnya Barat, yakni kegairahan menyelami hal-hal yang berkaitan maupun yang datang dari Timur, adalah penyalinan manuskrip-manuskrip ke dalam bahasa Latin sejak abad ke-13 Masehi hingga bangkitnya zaman Kebangunan (Renaissance) di Eropa pada abad ke-14. Bermula atas restu King Frederick II dari Sicily (1198-1212), yang belakangan menjabat kaisar Holy Roman Empire (1215-1250).
Sekalipun beroleh tantangan dari Paus dari Vatikan, namun kegiatan itu tetap berlangsung sehingga terbangun perguruan-perguruan tinggi di Semenanjung Italia, Padua, Florence, Milano, Veneszia, disusul oleh Oxford dan Cambridge di Inggris, Sorbonne di Perancis, dan Tubingen di Jerman. Manuskrip-manuskrip karya para ilmuwan muslim dari berbagai cabang ilmiah itu disalin ke dalam bahasa Latin; dan terlebih-lebih dalam bidang filsafat hingga lahir aliran Skolastik, Rasionalisme, Empirisme, dan lainnya.
Berkat penyalinan karya-karya ilmiah dari manuskrip-manuskrip Arab itu, terbukalah jalan bagi perkembangan cabang-cabang ilmiah tersebut di Barat. Apalagi sesudah aliran Empirisme yang dikumandangkan oleh Francis Bacon (1561-1626) melalui karyanya Novum Organon menguasai alam pikiran di Barat dan berkembangnya observasi dan eksperimen. Tetapi penyalinan karya-karya filsafat itu juga membangkitkan pro dan kontra yang sangat tajam pada masa-masa permulaan. Encyclopedia Britannica jilid II halaman 191-197 (Arabic Philosophy) mengungkapkan pengaruh penyalinan karya-karya filsafat itu dengan panjang lebar dan terperinci.
Tokoh-tokoh yang mula-mula memperkenalkan ilmu pengetahuan bangsa Arab, terutama dalam bidang ketabiban (medical science) dan bidang matematika (mathematics) pada abad ke-11 Masehi adalah : Gerbert d”Auvergne yang kemudian menjabat Paus di Vatikan dengan panggilan Pope Sylvester II (999-1003 M), Constantine the African, dan Adelard (Adelhoud) of Bath.
Pada pertengahan abad ke-12 Masehi barulah Raymund, Archbishop of Toledo, membentuk Societi of Translators yang diketuai oleh Archdeacon Dominicus Gundasalvi, dan buat pertama kalinya muncul versi-versi dalam bahasa Latin mengenai himpunan komentar Avicienna (Ibnu Sina) dan Algazales (Al-Ghazali) dan juga Vons Vitae karya Ben Gibirol. Yang diperkerjakan sebagai penerjemah itu adalah tokoh-tokoh Yahudi yang telah dipaksa memeluk agama Kristen setelah ibukota Toledo direbut dari kekuasaan Islam, dan seorang tokoh terkenal: Joannes Avendeath. Dengan demikian mulailah berlangsung kegiatan penyalinan naskah-naskah Arab. Karya Ibnu Sina (Avicienna) dalam bidang ketabiban, yaitu Canon of Medicine, disalin buat pertama kalinya oleh Gerard of Cremona (wafat 1187 M). tetapi penyalinan itu barulah berlangsung secara intensif setelah berada di bawah naungan kaisar Frederick II (1212-1250), kaisar Holy Roman Empire, yang menjabat King of Sicily dan lebih banyak menetap di pulau Sicily itu di ibukota Palermo (W. Montgomery Watt: 1979: 169).
Kaisar itu dijatuhi hukuman kucil (Excommunicated) dari gereja oleh Paus Innocent III (1198-1216 M) dan Paus Honorius III (1216-1227 ) karena aktivitasnya yang dipandang membahayakan gereja itu. Tetapi kaisar tersebut tampaknya tidak mempedulikan hukuman kucil tersebut, bahkan akhirnya terpandang sebagai tokoh yang menggerakkan zaman kebangunan (Renaissance) di Eropa. Di Palermo dia mengempulkan tokoh-tokoh muslim dan Yahudi untuk kepentingan penyelinan naskah-naskah Arab ke dalam bahasa Latin, baru disusul oleh tokoh-tokoh Kristen yang mempelajari dan mendalami bahasa Arab.
Kaisar Frederick II memberikan fasilitas tidak terhingga kepada Michael Scot (1175-1234), tokoh yang pertama-tama dalam sejarah menyalin karya-karya Averroes (Ibn Rushd). Pada tahun 1217 M Michael melawat ke Toledo dan membawa pulang sekian banyak naskah-naskah Arab dalam bidang astronomi dan bidang-bidang fisika lainnya. Seorang tokoh lagi yang diberi fasilitas oleh kaisar Frederick II adalah Hermanus Allemanus, yang antara tahun 1243 M sampai dengan 1256 M menyalin karya-karya Alfarabes (Al-Farabi). Disamping itu dia pun menyalin Rhetorica, salinan karya Aristoteles (384-322 SM) di dalam bahasa Arab, serta menyalin Poetic dan Etbica, karya Aferroes (Ibn Rushd) yang merupakan salinan karya Aristoteles.
Dalam limgkungan Skolastik Kristen yang berada di bawah naungan gereja, William of Aurvegne terpandang sebagai tokoh yang pertama-tama mengecam doktrim Averroes. Albertus Maknus (1206-1280) dan Thomas Aquinas (1225-1230)mengusun suatu karangan khusus membahas teori Averroes tentang Unit of Intellect (Kesatuan Akal)yang oleh Ibnu Rusd disebut ’Aql al-Fa’al (Active Intellect). Seluruh akal kedirian, seperti halnya jiwa-jiwa kedirian yang pulang kembali ke dalam Jiwa Alam (world soul)setelah meninggal dunia, maka seluruh akal-akal kedirian itu pun pulang kembali dan menyatukan diri kembali kedalam Aql al-Fa’al itu. Albertus Maknus maupun Thomas Aquinas mengecam teori itu dengan sengit sekali. Sekalipun begitu Thomas Aquinas banyak sekali meminjam dalil pikiran Ibnu Rushd didalam bembahasaan masalah Ialiah, begitu pula dalil pikiran Al-Farabi dan Ibn Sina dan Al-Ghozali, dalam karya-besar yang terkenal yaitu Summa Theologica; kecuali di dalam masalah Trinitas, karena masalah serupa tidak ada dalam agama Islam. Giles of Rome menuduh Averoes (Ibn Ruhsd) sebagai seorang yang tidak ambil peduli terhadap dogma- dogma teologia sehingga hal itu menyebabkan bangkitnya gerakan yang memperjuangkan kebebasan berpikir dari wewenang gereja. Sebagai tantangan terhadap gerakan itu, maka Paus Innocent III (1198-1216) – atas nama gereja – membentuk sebuah lembaga kegerejaan bernama Inquisisi (Inqisition) yang anggotanya terdiri dari para bishop dengan tugas menyelidiki dan mengadili pemikiran-pemikiran yang dipandang bid’ah (heresy) oleh pihak gereja, dengan hukuman tertinggi jika penganut pemikiran tersebut tidak mau bertaubat, ialah hukuman bakar hidup-hidup di depan umum. Banyak kurban berguguran di tanganlembaga Inquisition dan merupakan lembaran hitam dalam sejarah gereja.
Giordano Bruno (1548-1600) yang di depan mimbar-mimbar perguruan tinggi di Jerman, Swiss dan Italia mempertahankan pendapat bahwa alam semesta itu bukan berpusatkan bumi (geocentris) melainkan berpusatkan matahari (heliocentris); dan bumi hanyalah sebuah planit di antara planit-planit lain yang mngedari matahari. Akibatnya ia pun ditangkap oleh lembaga Inquisition dan karena tidak mau bertaubat, ia pun di hukum bakar hidup-hidup di depan umum.begitu pula nasib Michael Servetus (1511-1553), karena menghidupkan kembali keyakinan Unitary Faith di dalam agama Kristen, yang dipandang bertentangan dengan keyakinan Trinity Faith yang merupakan keyakinan resmi di dalam agama Kristen. Bahkan Joan Of Arc (1412-1431), pahlawan wanita prencis terkenal itu, juga dijatuhi bakar hidu-hidup oleh lembaga Inqusition hanya karena tuduhan bahwa kepahlawanannya itu diperoleh melalui sihir.
Berengarius of Tours, pada abad ke-11 Masehin dan Pierre Abelard (1079-1142) pada abad ke-12 Masehi, bermula memperdengarkan tantangan terhadap dogmatisme di dalam gereja, dan tantangan tersebut bertambah sengit setelah tumbuh dan berkembangnn Ibnu Rushd di Eropa.
Di Oxford (Inggris), Averroes dipandang sebagai”komentator agunng”(Great Aommenator ). Roger Bacon (1214-1294) yang menempatkan Averroes disamping Ariestoteles dan Avicienna, menganjurkan perlunya mempelajari bahasa Arab sebagai jalan satu-satunya untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang dibuat kabur oleh versi-versi salinan yang jelek. Duns Scotus (1265-1308) memandang Averroes dan Ariestotales sebagai “The unequalled masters of the science and proof” (Guru-guru yang tiada taranya dalam bidang ilmiah dan pembuktian).
Sejak abad ke-14 M, Averroism telah merupakan rotiumum dalam dunia filsafat di Barat (By the 14 th century Averroism was the leaven of phylosophy). John Baconthorpe beroleh julukan Prince of the Averroists, dan begitu pula Walter Burleigh.
Nilai terbesar dari filsafat Arab itu bagi kalangan Skolastik paska masa belakangan – ialah memperkenalkan mereka kepada seluruh karya Ariestoteles, yang semenjak Konsili Nicea I tahun 325 M, pada abad ke-4 M dilarang diajarkan. Sejak Zaman Kebangunan itu horizon ilmu pengetahuan mendadak meluas berkat penggunaan naskah lengkap karya Ariestoteles beserta karya-karya ilmuwan Muslim. Tidaklah mengherankan bila Averroism dipandang oleh pihak ordo-Dominikan sebagai “musuh utama terhadap kebenaran-kebenaran” (archenemy of the truths): yakni kebenaran-kebenaran yang dianut gereja dewasa itu.

PENUTUP

Sehubungan dengan substansi permasalahan yang dibahas, maka dikemukakan dikemukkan kesimpulan sebagai berikut :
1. Salah satu dampak perang salib bagi dunia Barat ialah bahwa mereka telah menyaksikan perkembangan peradaban Islam, mereka pun mengetahui betapa tinggi kemajuan dan perkembangan ilmiah dan filsafat sehingga menitikan selera kaum cendekiawan yang ikut dalam setiap Angkatan Salib itu. Semua itu semakin membangkitkan minat dan perhatian untuk mengenali dan mempelajari perikeadaan di dunia Islam.
2. Persentuhan tokoh-tokoh Barat dengan perguruan-perguruan tinggi milik Islam Nizhamiah, Al-Azhar, Cordova dan Kairwan pada masa sebelum dan permulaan abad pertengahan telah mendorong kebangkitan Barat untuk mengejar ketinggalan peradabannya yang amat jauh.
3. Magnit kekayaan Islam bidang ilmu, filsafat dan cabang pengetahuan lainnya telah mendorong penyalinan manuskrip-manuskrip Arab ke dalam bahasa Latin mempunyai pengaruh besar dan langsung terhadap kebangkitan Barat
Demikian kajian yang dapat disajikan pada kesempatan ini. Tiada gading yang tak retak, maka kritik dan saran demi sempurnanya sangat diharapkan. Semiga ada guna dan manfaatnya.

DAFTAR PUSTAKA

Joesoef Sou’yb, Orientalisme dan Islam, Bulan Bintang, Jakarta,1985.

Landau, The Muslim World, vol. XLVII, No. 2 (sebuah berkala triwulan), Hartford Seminary Foundation, Massachusset, 1958.

Oemar Amin Hoesin, Kultur Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1975.

The Historiansa’ History of the World, Vol. I, The Encyclopedia Britannica Co. Ltd., London, 1926.

W. Montgomery Watt, Pemikiran Theologio dan Filsafat Islam, P3M, Jakarta, 1979.

William L. Langer, Encyclopedies of Word History, ed. 1956